Thursday, October 22, 2009

ROKOK, MEMBUAT BAYI MENJADI KECIL

Berhenti merokok? Aduh, susahnya! Lantas, gimana dengan si janin?

“Kalau memang sadar dirinya hamil, sebaiknya jangan merokok,” kata dr. Achmad Mediana, Sp.OG. Perlu diketahui, seseorang yang menghisap rokok sama dengan menghisap lebih dari 60.000 unsur kimia beracun, diantaranya karbonmonoksida, hidrogen sianida, nikotin, dan karsinogen (zat pemicu kanker).

Nah, saat hamil, bukan cuma ibu hamil perokok yang terancam bahaya, tapi juga janin di kandungan ikut menanggung akibatnya. Mengingat janin mendapat suplai oksigen dan makanan dari sang ibu melalui plasenta.

Seberapa jauh, sih, bahaya rokok buat janin dari si ibu perokok?

PEMBULUH DARAH TERGANGGU

Kandungan sianida pada rokok dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan bayi menggunakan vitamin B 12. Akibatnya pembentukan sel darah merah akan terganggu karena kehadiran vitamin itu berguna untuk memproduksi protein dasar yang berfungsi bagi pembentukan sel darah merah.

Hal itu sama bahayanya dengan nikotin yang terdapat di dalam rokok. Nikotin bisa menempel di dinding-dinding pembuluh darah dan mengakibatkan vlek-vlek di pembuluh darah. “Nah, bayangkan jika vlek itu menempel di pembuluh-pembuluh darah yang menuju ke rahim. Apalagi sifat dari pembuluh darah bisa melebar atau menyempit. Mau tak mau pembuluh darah jadi terganggu. Belum lagi zat nikotin yang ikut mengalir masuk ke janin,” terang Achmad yang berpraktek di RS Gandaria, Jakarta Selatan.

Bahaya lain muncul dari kandungan karbonmonoksida. Kadar zat itu dalam darah bayi bisa menyebabkan tingkat oksigen dalam darah bayi berkurang 20 persen. Akibatnya, jantung janin bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan oksigen. Tentu saja kalau ini berlangsung terus menerus akan membahayakan kelangsungan hidup janin.

BAYI JADI KECIL

Timbulnya vlek dalam darah si ibu akibat nikotin bisa mempengaruhi aliran darah ibu ke janin. “Bisa jadi aliran darah itu terhambat,” ujar Achmad. Itulah mengapa kebiasaan merokok sering dikaitkan dengan pertumbuhan janin terhambat (Intrauterine-growth-retardation/IUGR). “Bayi akan menjadi kecil. Kelambatan pertumbuhan ini biasanya terjadi mulai kehamilan memasuki usia 18 minggu.”

Terhambatnya perkembangan janin ini berlanjut terus hingga menjelang kelahiran. Ibu yang merokok selama kehamilannya menyebabkan pengurangan berat badan bayi sekitar 150-250 gram. Bayi lahir dengan berat badan di bawah normal, 2500 gram.

Karena bayinya kecil, maka semua organnya juga kecil. Termasuk ukuran otaknya jadi kecil. Sehingga karena modal sejak lahir sudah tak bagus, maka dalam perkembangan selanjutnya juga akan mengalami keterlambatan. Kualitasnya tak akan sama dengan bayi normal. Pertumbuhannya bisa jadi akan terhambat.

Bisa jadi akibat yang dirasakan tak langsung nampak. Mungkin baru muncul beberapa tahun kemudian. Bukan tak mungkin akan mempengaruhi kemampuan intelektual si anak kelak, karena berbagai unsur kimia yang masuk dalam tubuh sejak dalam kandungan.

JANIN CACAT

Perlu diketahui, pada trimester pertama kehamilan, ujar Achmad, adalah masa pembentukan organ-organ penting. “Nah, kalau sedang dalam masa pembentukan organ, lalu aliran darah ke janin berkurang, bisa jadi membuat keguguran atau kelainan bawaan pada janin.” Umumnya terjadi bentuk kelainan mayor, seperti tidak terbentuknya salah satu anggota tubuh (kepala, tangan, kaki, dsb).

Saat ini kemajuan teknologi kedokteran sudah bisa mendeteksi gangguan tersebut sejak awal. Misalnya dengan USG. “Kalau di trimester pertama terlihat ada kelainan bawaan, maka biasanya akan diminta digugurkan.”

Jika tak ditemukan kelainan, kehamilan bisa saja diteruskan. Tapi, harus terus dilakukan pemantauan terhadap perkembangan janin. Screnning kehamilan berikutnya dilakukan pada trimester kedua. “USG kembali dilakukan untuk melihat apakah organ-organ, seperti otak, dada, jantung bisa berkembang normal,” kata Achmad.

Pemantauan perkembangan janin terus dilakukan sampai kehamilan trimester ketiga. Termasuk mengukur arus darah ibu ke janin. Pada usia kehamilan ini, bila ditemukan sirkulasi uteru placenter sudah tak memungkinkan bekerja dengan baik, sebaiknya janin dipertimbangkan untuk segera dilahirkan. “Dan dilakukan pengobatan di luar setelah bayi dilahirkan.” Keputusan ini dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kesanggupan janin untuk bisa hidup di luar rahim. “Kalau dinilai ia tak layak lagi hidup di dalam rahim ibunya, lebih baik diobati di luar. Biasanya ia akan bisa mengejar ketinggalannya setelah di luar.”

GANGGUAN PERSALINAN

Apakah merokok juga mengakibatkan gangguan persalinan? Secara langsung memang merokok tak mengakibatkan timbulnya gangguan pada proses persalinan. “Ibu perokok bukan indikasi untuk persalinan lewat operasi.” Artinya ibu perokok masih memungkinkan untuk melahirkan pervaginam. Dengan satu syarat, paru-parunya tak terganggu, maka tak menghambat untuk bisa melahirkan secara normal. “Kecuali kalau paru-parunya sudah terganggu, seperti batuk kronis, kesulitan bernapas, dan sebagainya, bisa jadi tenaganya kurang saat melahirkan.”

Namun begitu perlu diingat, rokok bisa mengakibatkan gangguan pada plasenta, misalnya plasenta previa (posisi plasenta menghalangi jalan lahir) meningkat menjadi 25 persen lebih sering dari ibu hamil bukan perokok. Bahkan, rokok merupakan salah satu penyebab kematian bayi baru lahir. Sebuah penelitian di Swedia menunjukkan bahwa sejumlah 5 persen kematian bayi baru lahir disebabkan kebiasaan merokok pada ibu hamil.

Yang tak kalah pentingnya kebiasaan merokok biasanya disertai dengan sedikitnya nafsu makan si perokok. “Karena perokok biasanya juga tak doyan makan, sehingga berpengaruh pula pada gizi si janin. Janin bisa terkena defisiensi gizi.” Perlu diketahui malnutrisi pada ibu hamil akan merusak perkembangan otak janin.

TERAPI YANG DILAKUKAN

Apa boleh buat, karena dampaknya yang sangat berbahaya, mau tak mau si ibu tentunya harus stop merokok. “Mungkin memang sulit menghentikannya seketika, tapi kalau ingin bayinya sehat, tak ada pilihan lain,” bilang Achmad.

Jika ketergantungan pada rokok ini sangat berat, anjurnya, ikutlah terapi berhenti merokok. “Lakukan banyak aktivitas, perbanyak relaksasi, dan ganti rokok dengan mengemil buah atau permen.” Akan lebih baik bila mengemil buah, karena bermanfaat buat nutrisi si janin juga. Sehingga dapat dicegah terjadinya malnutrisi pada janin.

Kendati demikian tetap saja mengandung risiko jika sebelum hamil si ibu merokok. “Sebab, nikotin yang menempel di pembuluh darah tetap ada. Bisa jadi sudah sangat tebal kalau ia adalah perokok berat, lebih dari 2 bungkus per hari. Apalagi kalau parunya juga sudah penuh vlek. Vlek sangat lama hilangnya. Jadi, tetap saja berisiko.”

Kecuali itu, penghentian merokok butuh proses, tak bisa seketika. Padahal kita dihadapkan pada janin yang sedang tumbuh. Untuk itu perlu proteksi pada bayinya. “Si bayi harus diberi obat penguat.” Itulah mengapa, Achmad menyarankan agar si ibu lebih kerap kontrol ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya.

Si ibu juga akan diberi vitamin dan glukosa, supaya bisa memberi nutrisi ke bayinya. Dietnya juga diatur, yaitu lebih banyak mengkonsumsi makanan tinggi protein.

Si ibu juga disarankan untuk mencegah kemungkinan seringnya terjadi kontraksi. “Untuk itu biasanya diberikan obat tokolitik untuk menghilangkan kontraksi tersebut.” Karena kontraksi yang terlalu sering akan membuat kelahiran lebih awal atau prematur.

Sedangkan untuk memperbaiki sirkulasi darahnya, si ibu diminta memperhatikan pola tidurnya. “Tidurnya diatur lebih banyak miring ke kiri. Sehingga aliran darah ke bayinya jadi maksimal. Jadi, aliran darah yang sedikit dari si ibu itu jangan sampai diperparah.”

Sebaiknya si ibu juga rajin melakukan oksigenisasi. Karena, dengan aliran darah si ibu yang berkurang, biasanya aliran oksigen juga berkurang. “Lakukan oksigenisasi tiga kali sehari. Masing-masing selama 15 menit. Oksigenisasi, selain bisa dilakukan dengan mengisap oksigen, juga dengan cara jalan-jalan pagi selama 1 jam.”

Pokoknya, terang Achmad, upaya-upaya tersebut tak ada artinya jika si ibu tetap mengkonsumsi rokok hingga persalinan tiba. “Yang penting, rokoknya harus distop, gizi diperbaiki, sirkulasi darah ke janin diperbaiki, dan jaga jangan sampai ada kontraksi di rahim ibunya.” Nah, mengingat bahayanya yang tidak kecil, masihkah Ibu berani merokok?

Riesnawiati/Indah Mulatsih .

Stop Rokok Saat Hamil

* MOTIVASI

Berhenti merokok merupakan hal sulit bagi perokok. Kemauan dan motivasi yang kuat bisa mewujudkan hal itu. Keinginan Anda untuk hamil bisa menjadi salah satu motivasi untuk berhenti merokok. Ingatlah, Anda berdua hanya menginginkan yang terbaik buat bayi Anda.

* BERTAHAP

Jika merencanakan hamil, jauhi rokok sebelum kehamilan terjadi. Mungkin sulit untuk berhenti sekaligus. Kurangi sedikit demi sedikit. Jangan pernah merokok lagi, setelah berhenti total, meski hanya untuk satu batang rokok.

* ALIHKAN PERHATIAN

Setiap kali keinginan merokok itu muncul, alihkan perhatian Anda pada yang lain, misalnya minum air putih atau makan buah-buahan. Ingat satu hal, seorang bayi sehat akan menjadi hadiah bagi kerja keras Anda.

* LAKUKAN KEGIATAN

Lebih baik lakukan kegiatan yang bermanfaat buat janin. Misalnya, ikuti kelas prenatal, senam hamil, atau memperdengarkan musik buat si janin.

* KONSULTASI RUTIN

Mengingat akibat yang tidak kecil bagi janin dari ibu perokok, konsultasilah dengan dokter secara rutin. Agar setiap gejala dan akibatnya bisa terdeteksi sejak awal.

sumber (klik)

Artikel terkait (klik)

salam

feel free to reach your dream

0 comments:

Post a Comment