Monday, November 10, 2014
Teknik Disiplin Anak "teknik kalender" by @AnnaSurtiNina
#teknikdisiplin 'Teknik kalender' dan 'teknik jam dinding' lebih pas dipakai untuk anak yg sudah mengerti omongan orang lain (sktr 1.5-2 th) ke atas
#teknikdisiplin 'Teknik kalender' akan pas untuk ketergantungan anak pd benda tertentu, misalnya dot, empeng, botol susu, guling pesing, boneka bau dll
#teknikdisiplin Gimana cara 'teknik kalender'?
Awalnya harus punya kalender dong, ya iyalah hehehe... Kalau bisa sih kalender yg angkanya besar
#teknikdisiplin Angka yg besar lebih menarik secara visual buat anak. Beri tahu cara kerjanya, misalnya begini: Ini bulan Agustus (sambil tunjuk bulan)
#teknikdisiplin Ini tgl 4 (sambil tunjuk angka 4). Beri tau juga setelah tgl 4 adalah tgl 5 = besok, terus besoknya lg tgl 6 (sambil nunjuk angka)
#teknikdisiplin Dengan begitu anak mengerti bahwa tiap hari tanggalnya beda. Jelasin jg perpindahan bulan: abis tgl 30/31, jd tgl 1 lg, tp bulan beda
#teknikdisiplin Tidak perlu ngomel lho kalau jelasinnya detil gitu. Memang demikianlah tugas kita sebagai orang tua, mesti ajari dr yg sederhana dl.
#teknikdisiplin Kalau anak sudah paham cara kerja kalender (terkadang butuh bebebrapa hari untuk betul2 paham cara kerja kalender, dengan anak bertanya terus) baru deh 'teknik kalender' bs dijalankan. Sekarang kaitkan antara kebiasaan dia dengan kalender. Misalnya, soal minum dr botol.
#teknikdisiplin Lagi-lagi, ingat, itu untuk yg cenderung ketergantungan ya, kalau tidak ketergantungan ya tidak usah. Variasikan cara sesuai kondisi masing2 ya, Katakan bahwa yg minum dr botol itu (or ngedot, or pake guling pesing dll) adalah anak kecil, sementara 'kamu kan udah besar'
#teknikdisiplin Pernyataan 'kamu udah besar' tujuannya memperbesar keyakinan anak bahwa dia akan bs berubah, tingkatkan rasa percaya diri pada anak. Minta kerjasama anak, 'Karena kamu udah besar, berarti tidak pake dot (botol/boneka bau/botol dll) lagi. Mulai kapan mau lepas?'
#teknikdisiplin Langsung tunjukin kalender, minta anak untuk menentukan kapan persisnya dia mau lepas. Usahakan itu bukan waktu yg terlalu dekat. tp juga jangan terlalu jauh. Yg cukup ideal antara 1 minggu sampai dengan 2 bulan (tergantung kondisi). Buat janji dari awal, supaya jelas targetnya kapan.
#teknikdisiplin Usahakan berkomitmen sama anak. Kalau emang sudah ditentuin tgl tertentu, tandai tanggal itu secara jelas, misal beri spidol / stiker gede. #teknikdisiplin Katakan kpd anak, "Sekarang, sampai tgl ..., kamu masih boleh sih ngedot (pakai botol, pakai guling dll), tp setelah tgl ... tidak lg."
#teknikdisiplin Jelasin ke anak apa yg akan dilakukan terhadap botol/dot/boneka dll pada tanggal tersebut. Misal, nanti akan diumpetin / disumbang dll.
#teknikdisiplin Nah, sejak hari ini (ketika dibuat perjanjian) sampai deket2 tanggal perjanjian, setiap hari kita ingatkan bhw dia MASIH BOLEH pakai barangnya tersebut sampai tanggal... Tujuannya bilang 'masih boleh' adalah untuk berikan kesiapan mental untuk berpisah. Setelahnya baru ingatkan tp setelah tanggal... sudah tidak boleh lagi ya. Ingetin aja tiap hari, supaya dia masih merasa punya waktu dan siapkan mental untuk berpisah.
#teknikdisiplin Kesiapan mental untuk berpisah ini butuh perkembangan kognitif tertentu. Makanya tidak bs untuk bayi, anaknya harus udah cukup mengerti. Lagian kalau masih bayi / terlalu kecil jg belum punya ketergantungan apapun kan. Jd memang tidak perlu teknik kalender ini. Kalau udah diingatkan tiap hari, hari-hari menjelang perpisahan itu, ingetkan agak lebih sering (yah sehari 4-5x lah). Tetep beritahu bahwa dia MASIH BOLEH sampai di tgl tersebut. Oya, bagus jg kalau hari yg dijanjikan adalah weekend, supaya ortu ada di rumah dan punya waktu.
#teknikdisiplin Kalau sudah sampai di tanggal yg dijanjikan, maka JREEEENNNGGGG persiapkan upacara pelepasan. Yg namanya upacara pelepasan perlu biar kongkrit banget buat anak bahwa sekarang adalah waktunya utk lepas dr ketergantungannya itu. Mungkin ada nangis, itu wajar.
#teknikdisiplin Upacara pelepasan perlu disesuaikan dengan yg sudah dijanjikan dr awal. Bs disimpan di koper terkunci, bs dikubur, dibuang dll. Kreasikan upacara pelepasan tersebut sesuai kondisi anak dan keluarga ya.
#teknikdisiplin Setelah upacara pelepasan itu, katakan kepada anak dengan bangga bahwa dia udah besar, hebat 1x bs lepas dari dot/guling/empeng dll itu. Boleh lho kalau makan2, kasi hadiah kecil, dll, itu jd reward atas keberhasilan anak. Yg penting pelukan dan senyum orang tua ya.
#teknikdisiplin Besok-besoknya kalau anak minta lg dot/guling/empeng dll, ingatkan dengan lembut bahwa dia udah besar, bahwa dia udah hebat karena udah lepas. Yg paling penting adalah KONSISTEN, jangan dikasi lagi walaupun dia menangis / ngamuk. Ajak main aja, alihkan aja.
#teknikdisiplin Moga2 cukup jelas tentang 'teknik kalender'. Yang 'teknik jam dinding' ngutang dulu ya, mesti siap2 dateng ke sekolah anak :) kombinasikan dengan teknik2 lain, dan harus dinetralisir kekesalannya dgn komunikasi lembut penuh cinta setelahnya.
Thursday, October 16, 2014
Kultwit : #HPdanAnak oleh @AnaSutirNina
Di usia berapa sebaiknya anak diperbolehkan untuk memiliki HP? Pastinya bukan balita. Bukan masalah usia. tp apakah sudah perlu & matang? Yg disebut perlu mis anak perlu kontak2an dengan ortu utk jemput dr beberapa kegiatan #HPdanAnak
atau di rumah tak ada telp rumah. Jika ada org dewasa yg bs dipercaya bersama anak, maka anak tak perlu HP.
Yg disebut matang tak cuma sekedar tahu cara gunakan HP, tp ini lebih penting: Bisa TANGGUNG JAWAB terhadap barang milik. Artinya anak perlu bisa menjaga agar HPnya tak hilang & tak rusak. Bisa aja SD udah oke punya HP, bs aja SMP jg belum layak
Apakah tindakan pihak sekolah melakukan razia HP sudah benar? Saya setuju, jika utk tujuan baik, bukan ...untuk cari2 kesalahan. Soalnya gini, tanggung jawab thd anak ketika di sekolah kan di tangan pihak sekolah, padahal banyak kejadian terkait HP di sekolah, misalnya HP hilang, nyontek via HP, penyebaran foto/video tak layak, dll. #HPdanAnak
Anakpun perlu belajar berkonsentrasi, & konsentrasi anak sering terganggu gara2 HP (suara, sinar, or membayangkan). Maksudnya 'membayangkan' itu kalau temannya sedang buka HP, diapun jadi kepikir mau buka HPnya, ingin main dll #HPdanAnak
Kalaupun orang tua perlu menghubungi anak karena ada hal mendesak, mestinya sekolah menyediakan diri utk membantu. Orang tua tak harus langsung dihubungi. Razia HP sering jg menemukan fakta2 yg orang tua tak tahu, misalnya anak ternyata simpan foto tertentu / kontak2an dengan yg mungkin pedofil. Artinya razia HP di sekolah jg bisa membantu anak & ortu utk belajar gunakan HP dng lebih bijak. #HPdanAnak
Jika orang tua tak ingin HP anak dirazia di sekolah, gimana kalau orang tua tak ijinkan anaknya bawa HP ke sekolah aja?
Aturan apa yg harus diberi ortu ke anak mengenai penggunaan HP? Sebelum berikan HP, bicarakan bhw akan ada beberapa aturan yg perlu disepakati bersama antara anak & ortu, krn ortu perlu ikut bertanggungjawab jika ada masalah yg menimpa anak & HPnya. Artinya aturan dibuat demi menjaga anak dari cyberbullying & penyalahgunaan HP #HPdanAnak
Pd dasarnya aturan boleh apapun, tp mesti disepakati antara ortu & anak. Contoh2 aturan: ortu perlu tahu password, ada waktu2 steril dr HP (mis pas makan malam), nilai di sekolah tetap di atas angka tertentu, tetap ada kegiatan fisik / aktivitas sosial, boleh berteman di sosmed (utk anak >13th) tp tetap banyak teman di dunia nyata #HPdanAnak
Sesekali orang tua perlu cek isi HP anak utk tahu aktivitas di HP, jangan sampai ternyata simpan video porno, atau rekam proses bullying terhadap teman di sekolah, atau ternyata sering kontak dengan orang2 yg mungkin pedofil (*) #HPdanAnak @rdindonesia
Dampak psikologis bagi anak akibat terlalu sering bermain HP? Kalau terlalu sering, biasanya dampak negatif. Konsentrasi anak bs terganggu, membuat anak lebih sulit paham & ingat pelajarannya, nilai cenderung menurun #HPdanAnak
Biasanya bagus ktk berkomunikasi secara maya, tp ketiks tatap muka kesulitan sampaikan pendapat, tdk sensitif pd bahasa nonverbal (gerak tubuh, ekspresi wajah) sehingga tak paham maksud tersirat lawan bicaranya #HPdanAnak
Anak jg dapat mengalami gangguan kecemasan. Contoh tandanya: gelisah ketik batere habis / tak dapat sinyal. Minat anak jg cenderung menyempit, hanya suka yg berhubungan dengan HP saja (or game), tdk suka hal2 lain. Artinya... #HPdanAnak
kesempatan anak utk berbahagia jd lebih terbatas :(. Lebih sulit bahagia ketika kita hanya bs mensyukuri sedikitt hal (*) #HPdanAnak
Adakah dampak positif penggunaan HP bagi Anak? Ada dong :D. Anak bisa kontak2an dengan orang tua & teman, walaupun tidak sedang bersama. Anak jg bisa kontak2an dengan mereka yg di belahan dunia lain, memperluas wawasan deh. #HPdanAnak
HP jg bs utk bantu belajar, misalnya si kakak SMP bisa pakai kalkulator di HP utk bantu hitung ketika pelajaran Fisika #HPdanAnak. Jika HP bisa online, bs cari informasi utk PR misalnya dari Wikipedia, bisa juga terjemahkan kata2 dari bahasa asing. #HPdanAnak @rdindonesia
Game di HP, banyak negatifnya sih, tp ada jg positifnya, misalnya bikin anak pintar atur strategi, belajar 2D / 3D. Intinya HP bisa banget berguna buat anak, kalau penggunaannya tepat lho. Kl keseringan, bahkan anak tak bisa lepas dari HP, yg terjadi sayangnya adalah kerugian2 buat anak. Kasian kan anak2 kita. #HPdanAnak
Oleh karena itu para orang tua mesti bijak. Orang tua tetap perlu tahu aktivitas anak di HP, jadi sahabatnya di sosmed. Sepakati aturan apa aja, sepakati juga konsekuensi jika aturan dilanggar. Tegaslah jalankan konsekuensi tsb. #HPdanAnak
Putri saya, SMP kls 7, pernah beberapa bulan tdk pakai HP karena hilangkan HPnya. HP berikutnya dia dapatkan karena dia konsisten tunjukkan nilai di atas target. Setelahnya dia betul2 belajar utk hargai barang #HPdanAnak
Dengan pendampingan & ketegasan orang tua, moga2 yg didapatkan anak adalah manfaat HP, bukan kerugiannya. #HPdanAnak.
Semoga bermanfaat. Pamit dulu ya
Tuesday, October 14, 2014
Kultwit : @AnnaSurtiNina tentang #anakbohong
Kali ini kita belajar yuk tentang anak bohong dari mbak @AnnaSurtiNina
Pastinya semua ortu ingin anaknya jujur kan, bukannya sering berbohong? Kenapa anak berbohong & gimana tanganinya? Kultwit yuk #anakbohong
#anakbohong Sejak kapan anak bisa betul2 berbohong? Biasanya di atas usia 4 tahun, karena kecerdasannya bertambahBahkan bisa berbohong termasuk salah satu indikator perkembangan kognitif & emosional normal buat anak balita
Tak berarti anak boleh terus-terusan bohong lho, tetap harus ditangani. Maksudnya kalau sesekali #anakbohong, ortu tak usah terlalu cemas. Anak <4 thn biasanya bukan bohong. Jika balita #anakbohong, mungkin dia:
1) Sedang berkhayal, karena balita belum bisa bedakan fantasi-fakta
2) Belum paham bohong itu salah. Ngomelin / hukum habis-habisan bukan cara yg tepat untuk beri tahu bahwa bohong itu salah lho.
3) Tidak paham waktu. Buat dia kemarin – tadi – hari ini – minggu lalu – bulan lalu, itu sama2 aja.
4) Kemampuan komunikasi terbatas, ngomongnya A krn tak tahu cara bilang fakta B.
5) Anak punya logikanya sendiri. Contoh ia meyakinkan ibunya bahwa ia betul-betul melihat matahari menangis atau kucing menari. Normal.
Jika alasannya seperti yg tadi disebut, balita #anakbohong biasanya keliatan biasa aja, tidak menunjukkan rasa bersalah.Kalau #anakbohong balita terlihat gelisah (misalnya meremas tangan / sembunyikan sesuatu), terlihat takut, mungkin dia memang bohong. Cek usia 4-7th
Kita percaya bahwa balita tidak berniat #anakbohong, tp mungkin tak mampu menyampaikan informasinya sesuai fakta karena keterbatasannya.Oleh karena itu, jangan percaya mentah2 apa cerita anak. Tetap cari informasi dari orang lain, mis orang lain yg bersama dia
Sementara kalau #anakbohong usia 4-7 tahun, kemungkinan memang betul berbohong, tapi alasannya beda lagi lho.Ketika #anakbohong, kadang dia terlihat gelisah / takut, tp bisa juga alihkan dengan nangis / marah, agar ortu tak menyelidik lebih jauh
a) Dia mungkin mencontoh ortunya, misalnya ortu ancam, “Kalau makan nggak habis, dokter nyuntik kamu”, ternyata toh dokter tidak dateng. Contoh kebohongan ortu lg: diam-diam pergi tak pamit karena takut kalau pamit nanti anaknya rewel. Halo ortu, itu contoh bohong lho. Contoh ortu bohong lg: Ayo pulang, nanti dikasih hadiah kalo pulang. Abis itu tetep gak dikasih. Anak belajar bohong itu normal.Ini juga contoh kebohongan klasik: ketika anak yg terima telp, ortu bilang lagi pergi, padahal ortu sedang di rumah. #anakbohong
Sadarilah, ancaman2 atau janji palsu yg sering dilakukan ortu dan seringkali tak terbukti itu adalah contoh buat anak
Alasan lain b) Takut mendapat hukuman, misalnya bilang bukan anak yang memecahkan gelas tapi kucing yang anak kejar
c) Terlalu sering dimarahi, sehingga anak menghindari kemarahan dengan menciptakan cerita yg dianggap benar, pdhl tak sesuai fakta
d) Ingin dianggap sama dng temannya, mis bilang bahwa ia juga berlibur ke luar negeri krn temannya baru cerita ttg libur ke LN
e) Tak mau kalah dari teman, mis bilang bahwa di rumah juga ada barang seperti punya si teman, bahkan lebih bagus, pdhl tak ada
f) Karena ingin menyenangkan orang lain, misalnya bilang bahwa kue buatan ibunya enak banget padahal biasa aja. Ups... dalem banget ini
#anakbohong Di atas 7 tahun, alasan kebohongannya biasanya mirip dengan anak 4-7 tahun, tapi lebih canggih karena anak sudah lebih cerdas. Jika anak >7 tahun terlalu sering #anakbohong, waspadai. Di atas 10 tahun masih sering bohong? Jangan2 berkembang jd compulsive liar :(
#anakbohong Compulsive liar adalah mereka yg justru tak nyaman ketika menceritakan hal yg benar/jujur. Segera konsultasikan dng psikolog. Menurut ahli Talwar & Lee (2002) anak <8 tahun belum mahir bohong, jd usia <8 thn = usia emas tanamkan kebiasaan jujur
Gimana tangani balita #anakbohong? Karena biasanya tak niat bohong, maka jangan dimarahi / hukum, apalagi kalau itu pertama kalinya bohong. Jangan cuma sekedar menghukum, tp tak tawarkan solusi. Kalau hanya hukum saja, lain kali #anakbohong lebih canggih, cari cara tak ketauan
#anakbohong Contoh solusi: tawarkan kalimat > tepat, carikan cara belajar spy nilai >tinggi, sampaikan tak apa jk tak punya brg yg diidamkan. Apa yg mesti dilakukan supaya anak tak punya kebiasaan #anakbohong? Pastinya: contoh yg tepat. Tunjukkan kata2 ortu bisa dipercaya
Antisipasi lain supaya tak sampai #anakbohong, jika melihat ada kebohongan yg dilakukan orang lain, jelaskan bahwa itu salah, ortu tak suka
A) Santai saja menanggapi, mis dengan sampaikan fakta. “Katanya bukan kamu yg habiskan kue, tp kok mulutmu penuh remah2 kue ya?”
B) Sampaikan fakta dengan tenang, intonasi rendah, tak perlu tunjukkan mata menyelidik apalagi marah.
C) Terimalah kesalahannya tanpa menyalahkan, mis “Lain kali kalau kamu yg habiskan, bilang saja, mama gak marah kl kamu jujur”
D) Betulkan sesuai fakta sambil perbaiki kalimatnya, mis, “Tante memberi kamu kado minggu lalu, Nak, bukan tadi siang.”
Jika anak 4-7 th #anakbohong E) daripada marah / menuduh, lebih baik tatap matanya dalam sambil sampaikan fakta yg diketahui dng tenang misalnya, “Ibu kemarin menemukan mainan di kamarmu, setahu Ibu itu punya temanmu, Adi. Kok bisa ada di kamarmu ya? Bisa cerita?”
#anakbohong F) Diamlah menunggu reaksinya, jangan dulu beri nasehat panjang lebar. Minta anak jelaskan
#anakbohong G) Jika ceritanya acak adul, mngk bohong. “Ayah kurang mengerti ceritamu, boleh tolong kamu ulangi lagi?” Cek konsistensinya
#anakbohong H) Kalau sudah mengaku, hargai. “Mama senang kamu sudah jujur. Ayo kita pikirkan gimana mengembalikan mainan itu.” Cari solusi
#anakbohong I) Jika terjadi lagi, maka beri hukuman. Tak sembarang hukuman. Tahan haknya, yg relevan tentunya. Berikan penjelasan, misalnya "Karena kamu mengaku belajar padahal main tablet, maaf ya, tablet ini akan disimpan dulu sampai minggu depan.”
#anakbohong J) Jangan pernah melabel anak sebagai si pembohong, walaupun ia berulangkali bohong. Ia harus tahu bahwa ia bisa jujur!
#anakbohong K) Ingatkan saat2 ketika anak jujur, sampaikan bahwa ortu bangga sekali karena anak bisa jujur. Ortu ingin anak seperti itu.
#anakbohong L) Ingat2 bgmn aturan & komunikasi Anda selama ini, jangan2 sangat menyebalkan sehingga anak lebih memilih berbohong
#anakbohong M) Anak yg membual, mungkin krn kepercayaan diri bermasalah. Bantu cari sisi positifnya dan sampaikan kebanggaan ortu kpdnya
Nah, itu tadi kultwit #anakbohong, tentang sebab & penanganannya. Semoga setelah ini para orang tua lebih bisa bikin anak lebih jujur yaaaa.
Monday, October 13, 2014
Kultwit : #disiplincinta by @AnnaSurtiNina
Semangat pagi...
Belajar yuk... ini kultwit dr psikolog anak @AnnaSurtiNina tentang #disiplincinta
Memukul / menghajar/ mencubit / membentak / menekan dengan aturan terlalu ketat, sebetulnya bentuk kekerasan terhadap anak #disiplincinta
Pola asuh yg menggunakan disiplin penuh kekerasan kita sebut ‘pola asuh otoriter’. Pengatur = ortu, anak tak dianggap. Efek kekerasan terhadap anak bs mulai dari efek fisik yg langsung terlihat sampai efek psikologis jangka pendek / panjang #disiplincinta
#disiplincinta Efek fisik misalnya memar, luka, patah tulang, sampai kematian. Efek psikologis misalnya mimpi buruk, sulit tidur, cemas, takut, dll.Efek psikologis jangka panjang misalnya minder, pasif, agresif, depresi, gangguan makan seperti anoreksia, gangguan kepribadian, dll
#disiplincinta Berdasarkan banyak penelitian psikologi, sudah sangat TIDAK disarankan melakukan disiplin dengan kekerasan, udah gak jaman.
#disiplincinta Masalahnya, setelahnya banyak ortu yg trauma terhadap pola asuh penuh kekerasan yg diterimanya masa lalu, lalu jadinya...terlalu takut marah kepada anaknya. Padahal marah kpd anak, ketika dilakukan dengan tepat, bisa jadi bagus lho efeknya
#disiplincinta Banyak ortu yg terlalu takut kalau anaknya menangis, lalu kemudian langsung diberikan apa yg diminta anak. Gak bener nih.Pola asuh yg terlalu mengalah kepada anak ini kita sebut ‘pola asuh permisif’. Yg menentukan aturan = anak, ortu tak berdaya. #disiplincinta
#disiplincinta Di sisi lain, ada pula ortu yg juga takut / malas terapkan disiplin, cenderung abaikan anak, disebut ‘pola asuh abai’.
Terapkan disiplin yg benar seperti apa? Mestinya sih #disiplincinta, kita sebut ‘pola asuh autoritatif / moderat’. Yg atur = ortu dan anak.
#disiplincinta Anak mestinya tetap mendapat aturan, tapi aturan tersebut disepakati bersama. Misalnya, sepakat mau mandi jam berapa.Menyepakati aturan memang butuh kemampuan negosiasi dr ortu & anak. Setelah disepakati, jalankan walaupun anak nangis
#disiplincinta Contoh, sudah sepakat mau mandi jam 5.15, ketika anak berubah pikiran lalu menangis, ortu perlu tabah jalankan aturan,misalnya sepakat anak main game di gadget hanya 1 level, maka setelah 1 level harus betul2 stop, ambil gadgetnya wlp anak nangis
#disiplincinta Artinya ortu perlu ramah penuh cinta, berusaha akomodasi kebutuhan anak, tapi juga percaya diri untuk mengatur anak.Gimana kalau anaknya protes nangis? Tenangkan dulu, lalu tetap jalankan aturan yg sudah disepakati tadi. Bukan negosiasi lagi
#disiplincinta Ketika aturan sudah dijalankan secara konsisten, maka anak akan tahu bagian mana ortu bisa negosiasi, mana yg tidak, lebih nurut.Ada kalanya anak memang membangkang. Dalam tentukan aturan, termasuk tentukan konsekuensi. Misalnya, ketika disepakati jika anak belum mandi maka anak tak boleh nonton, maka matikan TV dl shg anak betul2 tak bisa nonton
pada anak balita sih nggak perlu hukuman sebetulnya, tapi boleh kok menjalankan konsekuensi dari perilakunya
#disiplincinta Mis ketika anak tumpahkan isi gelas, drpd diomelin doang, mending anak diajak beresin, ikut ngepel sebisanya
#disiplincinta Kapan perlu hukuman? Saya lebih suka sarankan di atas 4 tahun. Itupun bukan pukulan atau bentuk kekerasan lain, melainkan menahan hak anak, atau menjalankan konsekuensi (seperti di usia sebelumnya, tapi biasanya lebih kompleks sih)
#disiplincinta Hak yg ditahan mis hak main game, hak nonton, hak dapet dessert, dll, disesuaikan dengan apa yg disukai anak.bisa ditegakkan sejak usia berapa? Pd bayi, sekadar rutinitas sehari2, usahakan di jam yg relatif sama utk mandi / tidur.
Ketegasan dalam #disiplincinta adalah MENJALANKAN ATURAN yg sudah disepakati bersama lewat negosiasi. Sama sekali bukan ttg kekerasan.
Inti #disiplincinta itu adalah hubungan penuh cinta antara ortu-anak, dikombinasi dengan jalani kesepakatan aturan. Konsisten. Konsekuen.Jika dalam #disiplincinta anak tak jalankan kesepakatan, bisa berikan konsekuensi yg disepakati atau tahan haknya, terutama yg disukai anak
Moga2 kultwit #disiplincinta ini bikin ortu tambah dekat anak, tapi juga berani bersikap tegas dengan anak tanpa kekerasan. Good luck!
Wednesday, November 27, 2013
this is my new world...oriflame
okay...
this is my new world...
believe it or not sekarang saya nyemplung serius disini. serius? iya...
terus yang dulu gag serius, serius sih tapi gag tau mau ngapain. ngeles yak...
okay mulai gabung lagi sejak MEI 2013 dimana diriku sudah resmi ter terminate dari id sebelumnya.
inget lho disini gag boleh double account apalagi nyuri anggota member lain. ada sanksinya.
sanksi yg bs kena semuanya even itu kamu sudah ada di posisi enak dengan gaji 5-7jt
sayang kan ya.
jadi awal saya gabung lagi karen galau sesuatu, ihhh putri bisa galau ya... iya lah manusia gitu.
galaunya anak dua , pergi pagi pulang malem, kebutuhan meningkat, masih ada tanggungan yang belum bisa dilepaskan. ah..berjuta pikiran pokoknya dikepala.
teringat seorang teman cie... cuma kenalan doank padahal di FB ketemuan juga belum, pernah bantuin saat aku di bawah, dan tau banget track recordnya gimana.
terus kenapa milih kok gabung dijaringannya?
to be honest saya dl gag tau kalau leader-leader diatasnya adalah orang-orang yang sering banget nangkring buat dapet rewardnya oriflame hehehehe....
saya hanya melihat recordnya berapa orang yg berhasil dia bimbing, gimana dia meng- encourage downlinenya dll dah.
intinya terus join, belajar lagi yg pernah dipelajari sebelumnya. plus banyak pelajaran baru. dalam hal step by stepnya. dan di awal bulan juni saya merasakan hasilnya.
JENG JENG....
kecil ya cuma 47rb sekian , its okay karena masih di tangga pertama bisnis. dan ini yang membuat saya semakin yakin dan perlu digaris bawahi ya kalau kami yang dapat bonus juga bayar pajak.
mungkin ada yang nyinyir.. "mau ya kerja cuma dapet segitu doang." "awas lho ditipu" dan banyak lagi.
ingat pencuri mimpi itu selalu ada.
kita gagal kalau kita berhenti berusaha. Thomas Alpha Edison juga mungkin gag akan jadi penemu bohlam kalau di penelitian ke 999 kali dia menyerah.
dan saya tidak mau menyerah.
dan hasil yg saya dapat di bulan oktober adalah...
transferan bonus langsung dari oriflame.
alhamdulilah banget... disamping gaji sendiri juga dapat tambahan dari oriflame. kalau saya berhenti dan mendengarkan kata orang yg negatif mungkin saya tdk dapat bonus sekian, dan tdk ada di tangga yang sekarang.
kalau ada yang bilang kenapa sih mau ikutan , sampe kerja melebihi jam kerja kantor?udah gitu hasilnya gag tetap
yah mbak kantor emang jelas gajinya berapa...tapi saya gag mau terus-terusan dengan gaji segitu tapi pergi pagi pulang malam. saya mau masa depan untuk anak saya, saya mau dengan gaji yg sama saya dirumah dan main bersama mereka. saya mau mewujudkan mimpi orang-orang yang masih ada bersama saya.
terutama ibu yang tinggal satu-satunya orang tua yang saya miliki.
kalau mau jalanin bisnis ini yang harus diingat adalah :
FUN, MAKE MONEY and FULL FILLED DREAM
kalau funnya gag dapet berarti ada yang salah waktu ngejalaninnya, ngobrol sama upline supaya bisa kasi solusinya.
JANGAN MENYERAH dan JANGAN MENGELUH, kata menyerah dan kata-kata negatif lainnya membuat kita jadi gampang putus asa. ingat kesuksesanmu bukan karena uplinemu tapi target itu tergantung dirimu sendiri mau kemana.
KELUARLAH dari ZONA NYAMAN, gag bisa ngomong ya belajar ngomong (masa sih gag bisa ngomong) gag bisa jualan dih katalog ok banget pelajarin deh.
dah ah...
mau kita pulang....yang mau ikutan atau penasaran boleh banget klik disini
GO SM!!
Tuesday, June 4, 2013
Review Breastpump
Avent Manual
- Harga 600.000 - 650.000
- ada keluaran distributor indonesia (dengan stiker) ada yg US (tanpa stiker)
- suctionnya mantap, gag bikin sakit PD. bantalan silikon juga membuat nyaman.
untuk LDR gampang dapetnya.kalau ada yg bilang avent ribet dan banyak printilannya itu mah yg belum biasa aja, kalau sudah biasa gampang kok. IMHO sebenarnya gag banyak juga sih.
botol tampung asi wideneck jadi gampang kalau membersihkan.kalau mau beli langsung juga ada jadi gag harus pindah2in setelah pumping. isi 4 x 125 harganya 160.000,-
Mendela Harmony
ini BP yg pertama kali di coba waktu baby rain lahir,
- harga Rp 485.000,-
- printilan lebih banyak ini sih dari avent, yg agak riskan bersihkannya itu bagian diagfragmanya riskan sobek.suctionnya nyaman tapi agak ribet karena bagian untuk dapetin LDR dengan PUMP ekspresinya beda.
- kalau yg LDR harus tekan tuas pendek yg ada gambar tetesan airnya cepat2.kalau sudah dapat LDR kemudian pindah ke bagian tuas yg panjang.botol tampungnya kaca, jelas recommended, tapi untuk perjalanan dengan kendaraan umum dan jauh lebih baik di ganti botol simpan yg plastik (BPAS free)
- Spare part relatif murah dan mudah dicari
Unimom Mezzo
ini bisa di bilang avent wannabe atau KWnya avent :D
- harga 250.000,-
- hampir sama ada bagian bantalan silikonnya untuk memijat PD, tapi kurang nyaman karena ASI suka merembes diantara corong dan silikonnya.
- Suction mantab, tuas nyaman gag bikin pegel gag gampang slip juga.
- gampang DPT LDRnya, spare part agak susah di dapat katanya.o iya plusnya BP ini adalah dia bisa digunakan untuk botol yg wideneck seperti botol milik avent.
jadi kalau bawa botol simpan asi avent gag masalah dan gag ribet di pindah ke botol lain
Pigeon Electric Portable
agak sedih memikirkan BP yg ini karena bagian motor dan kabelnya hilang, kemungkinan ada yg berniat mencopet tp yg di dapat adalah tas kecil yg isinya motor + kabel BP. masih berharap ketemu sih (semoga... amin...)
- harga 750.000,-
- pertamanya bingung waktu pakainya, katanya elektrik ? kok harus mencet-mencet, terus dijelaskan ternyata BP ini memang semi elektrik,lebih mudah dapat LDR karena tuasnya yg ringanbody botolnya kurang nyaman karena besar (wide neck) dan botol juga menggembung mirip buah pear.
- kalau yg sudah biasa dengan mendela atau avent suction BP ini kurang terasa.
Sunday, January 13, 2013
FLAT FEET
Flat feet (kaki ceper) adalah normal pada bayi. Cekungan kaki akan muncul pada usia 3-4 tahun. Sekitar 20% anak memang tidak punya cekungan kaki dan ini normal. Flat feet tidak mengakibatkan anak cepat lelah. Anak dengan flat feet mampu beraktivitas normal. Anak dengan flexible flat feet tidak memerlukan sepatu atau program khusus untuk membuat cekungan kakinya muncul.20 persen anak sampai dewasa tidak mempunyai cekungan kaki dan ini normal (tidak mengakibatkan cepat lelah) asalkan tidak stiff, tidak painful, tidak progressif, tidak asymetry, tidak ada gangguan pola berjalan. Sepatu atau insole tidak menyelesaikan masalah karena hanya akan develop temporary foot arch, begitu sepatunya dilepas maka foot arch akan hilang kembali
untuk mengetahui apakah kaki flat feet atau tidak dapat dilihat dengan cara The foot arch flattens when the child stands (a), but is visible when standing on tiptoes (b) or if the feet are off the ground (c). Apabila ini yang terjadi pada anak ibu maka dia memiliki flexible flatfoot yang sebenarnya varian normal kalau cekungannya lebih tinggi dalam bahasa medis disebut pes cavus (kalau flat foot disebut pes planus). Pada pes cavus kita harus lebih concern, harus lebih teliti lagi memeriksanya karena kemungkinan besar memiliki masalah neuromuskular. Artinya ada kemungkinan otot atau syaraf nya tidak seimbang satu sama lain sehingga menyebabkan deformitas
info dari :
dr. Aryadi Kurniawan, Sp.OT
Sumber :
- Room For Children, -
- artikel flat feet dari Royal Children Hospital Melbourne
Thursday, January 10, 2013
Klarifikasi tentang Salah Persepsi Akibat Tulisan ‘Malik dan dokter Belanda (Dimana salahnya)’ dan juga buku ‘Smart Patient’ part 2
Klarifikasi tentang Salah Persepsi Akibat Tulisan ‘Malik dan dokter Belanda (Dimana salahnya)’ dan juga buku ‘Smart Patient’
by Agnes Tri Harjaningrum on Thursday, January 10, 2013 at 6:27pm ·
Sebetulnya sudah sejak lama saya sering mendapatkan kiriman pesan baik langsung maupun tidak langsung, baik positif atau negative, akibat cuplikan bagian I buku ‘smart patient’ (yang tentang cerita malik dan dokter Belanda berjudul ‘Dimana Salahnya’) tersebar di dunia maya tanpa bisa saya kontrol. Akibatnya selain laporan tentang dampak positifnya, timbul juga beberapa persepsi dari pembaca seperti: jadi anti antibiotic dan anti obat kimia. Saya pun menerima masukan bahwa pasien menjadikan buku saya sebagai pegangan untuk tidak percaya pada dokter, dll.
Saya akui bahwa saya salah karena telah membiarkan cuplikan bagian buku tersebut tersebar sehingga menimbulkan salah penafsiran yang ‘out of contex’, karena tidak mendapatkan pesan lengkap dari bukunya. Saya juga menyadari bahwa mungkin ada kata-kata dalam artikel tersebut (maupun dalam buku) yang terasa terlalu ‘harsh’ sehingga beberapa pihak menjadi tersinggung karenanya. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-besarnya, sama sekali tidak ada niatan untuk menyinggung, tapi semua terjadi semata-mata karena saya masih dalam proses belajar dan belum piawai dalam menyusun kata. Namun sekali lagi, di dunia maya apapun bisa terjadi dan saya tidak bisa mengontrolnya. Mungkin ceritanya akan menjadi berbeda ketika pembaca tidak semata membaca artikel tersebut tetapi juga membaca secara lengkap isi bukunya dengan benar. Karena itu saya hanya ingin mengklarifikasi bagian yang paling penting bahwa:
Dari tulisan tersebut maupun dari buku yang saya tulis, saya sama sekali tidak pernah menganjurkan untuk menjadi anti obat kimia, anti antibiotic maupun anti dokter. Jika ada yang menafsirkan demikian, mohon maaf tolong baca selengkapnya buku saya dengan benar. Dalam tulisan saya, justru saya menekankan untuk, plis jadilah smart dan rasional, lihat evidence based, lihat apa kata penelitian, liat sumber-sumber terpercaya supaya kita tidak gampang tertipu dan salah. Dalam buku itu saya juga tidak mengatakan untuk anti dokter tapi justru, ayo, tolong, bantulah dokter dan bekerjasamalah dengan dokter. Tidak perlu minum obat kalau tidak perlu, tapi justru harus minum obat kalau memang perlu.Saya tidak menganjurkan obat-obat herbal, bekam dll, yang memang tidak ada dalam buku tersebut bukan karena saya anti terhadap obat-obatan/tindakan tersebut melainkan karena saya memang belum menemukan penelitiannya dalam literature yang saya baca dan saya tidak ingin menulis sesuatu yang saya tidak memiliki bukti medis yang bisa saya pertanggungjawabkan tentangnya. Jika pembaca ingin menganjurkan tentang herbal, bekam dan lain-lain ini kepada yang lainnya, silahkan, tidak ada yang melarang, tapi tolong jangan cantumkan artikel saya ataupun buku saya untuk mendasarinya.
Dengan klarifikasi ini saya hanya berharap semoga tulisan saya tidak disalahgunakan dan disalahtafsirkan. Saat menulis setiap bagian di buku itu, saya selalu usahakan untuk mengawalinya dengan doa dan tak berani saya menulis sebelum membaca sumber-sumber terpercaya. Meski demikian, tetap saja tulisan saya memang jauh dari sempurna karena kesempurnaan hanyalah milikNya. Karena itu sekali lagi saya mohon maaf dan juga saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak, respon yang saya terima kemudian semakin menyadarkan saya akan pentingnya berhati-hati dalam menulis. Saat dalam proses penulisan buku itu, saya bergetar, saya berpikir panjang, saya butuh waktu tahunan sebelum kemudian memutuskan untuk menerbitkan buku itu, karena saya sadar bahwa konsekuensi menjadi penulis dan sebuah tulisan tidaklah gampang. Apapun yang saya tulis harus bisa dipertanggungjawabkan bagi dunia dan akhirat saya. Karena itu, tolong gunakan dan persepsikan tulisan saya sebagaimana mestinya.
Demikian klarifikasi dari saya,
Agnes Tri Harjaningrum, penulis artikel ‘Dimana Salahnya’ yang merupakan bagian dari buku Smart Patient.
hormat saya untuk dr.Agnes Tri Harjaningrum yg sudah memperbolehkan note beliau di share di blog saya. Semoga selalu sukses dan penuh berkah
link sumber : https://www.facebook.com/notes/agnes-tri-harjaningrum/klarifikasi-tentang-salah-persepsi-akibat-tulisan-malik-dan-dokter-belanda-diman/10151304335418796
salam
Klarifikasi tentang Salah Persepsi Akibat Tulisan ‘Malik dan dokter Belanda (Dimana salahnya)’ dan juga buku ‘Smart Patient’ part 1
"Smart Patient" (karya dr.Agnes Tri Hajaningrum)
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus.
Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu
mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau.
Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya.
Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa
mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam
tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart
(dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya. "Just wait and see. Don’t forget to
drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu. "Ha? Just
wait and see? Apa dia nggak liat anak ku dying begitu?" batinku meradang.
Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga
hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga
enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
"Obat penurun panas Dok?"tanyaku lagi. "Actually that is not necessary if the
fever below 40 C." "Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku
kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung?" Kesalku kian membuncah. Tapi aku tak
ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi
Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain.
Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa
setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga
bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait
and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap
hingga hari ke tujuh. "Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku. Lalu si
dokter menekan-nekan perut anakku." "Apakah dia sudah minum suatu obat?" Aku
mengangguk. ―Ibuprofen syrup Dok," jawabku. Eh tak tahunya mendengar jawabanku,
si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja
dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak,
karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri
paracetamol saja." Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah,
tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas
kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu
bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung
menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat
penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq,
tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih.
Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol.
Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru,
kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku. "Mana Malik nggak dikasih apa-apa
pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40
derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!" Suamiku
menimpali,"Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke
dokternya?" Aku menarik napas tak panjang."Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si
dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku
lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten
di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya
secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling
keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi
ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas
beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya
pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia
hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota
di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda
pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa
yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek
sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter
senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku
ikut-ikutan sakit. Suara "Srat..srut..srat srut" dari hidungnya bersahut-sahutan.
Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya
menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya
dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia
memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau
pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang
seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi
batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja.
Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu
mengecewakan aku. "Just drink a lot," katanya ringan. Aduuuh Dook! Tapi anakku
tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal. "Apa
nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas. "This is mostly a viral
infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi. Ggrh…gregetan deh rasanya.
Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih
obat. Paling enggak kasih vitamin keq! kesahku dalam hati."Lalu Dok, buat
batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.
Dengan santai si dokterpun menjawab," Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di
toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu
pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat
Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu. "Kenapa sih negara ini,
katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering
mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki
waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara
berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya
langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi
dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran,
tapi aku malah tidak pede mengobati anak-anakku sendiri. Dan walaupun
anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak
seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak.
Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke
dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang
antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi.
Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia
sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir
tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku
membawanya ke huisart. ―"ok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya
Dok." Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan
lubang hidungnya, huisartku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral
infection." Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection
seh! Lagi-lagi aku sebal.
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku
ngeyel seperti biasa. Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum.
"Do you know how many times normally children get sick every year?" Aku terdiam.
Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal. "Twelve time in a year,
researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke
dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya. Glek! Aku cuma bisa
menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang
ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah?Dimana salahnya? Ah
sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini
kurang belajar.
Kesalahan Paradigma
Lalu, setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai
berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan
Darmansyah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya
begini:
"Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan
sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke
dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis
seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering
sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam
penanganannya," Lanjut artikel itu.
―Pertama, pengobatan yang diberikan selalu
mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk-pilek dengan atau tanpa demam
disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak,
antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga
keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi
imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit
setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Lingkaran setan ini: sakit –>
antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu
panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.‖
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana
saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada
anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke
dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak
percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‗dipaksa‘ tak lagi pernah
mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi
anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal
kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansyah. Dan
di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‗pengobatan rasional‘.
Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan
rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Aku terlalu sibuk mengurus
keluarga rupanya? Jadi, apa yang selama ini kulakukan—tidak meneliti baik-baik
obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun
panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak
mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik
dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin—
rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm...kalau begitu,
terlepas dari kekurangan yang pasti juga ada, sistem kesehatan di Belanda adalah
sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif
menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat,
ibuprofen dipakai secara luas untuk anak-anak. Tetapi karena resiko efek
sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun
obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak
diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai
obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. ―Duh, untung ya Yah aku
nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter.
Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,‖kataku pada
suamiku.
***
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara
terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang
terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk
kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif
‗terlindungi‘ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang
tinggal di kota besar— yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan
pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran
oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke
dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat,
biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‗memaksa‘ agar si dokter memberikan obat.
Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter
‗menjual‘ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang
mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap
memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek,
demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior.
Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya
pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak
perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug,
resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan
tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan
aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak
menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan
tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para
orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai
keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang
raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan
kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari
dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‗hanya‘ untuk konsultasi,
memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan
diriku bahwa anakku baik-baik saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang
masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter
malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar
sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum
berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas ‗beraksi‘ tanpa ada peraturan dan
hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun ‗bebas‘ meresepkan obat apa saja
tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia
saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung
pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi
tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan?
Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus
berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan
pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang
pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak
punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien
‗bergerak‘, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat
yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
to be continued...
Sunday, November 18, 2012
Cara Memanaskan Botol Susu
Botol Isi Susu Formula
http://parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=babies&id=470
Botol Susu yang Direbus Bahayakan Kesehatan Bayi
Kebiasaan mensterilisasi botol susu bayi dengan cara merebus botol ternyata dapat menimbulkan bahaya kesehatan bagi anak.
"Jangan merebus botol susu untuk sterilisasi, lebih baik direndam saja dengan air mendidih," kata Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Mustofa, hari ini.
Mustofa mengatakan kebanyakan botol susu bayi terbuat dari plastik jenis Polikarbonat (PC). Jika direbus ada kemungkinan plastik ini akan melepaskan residu senyawa kimia yaitu Bisfanol yang menimbulkan bahaya Endocrine Disrupter yang menganggu sistem hormon tubuh.
Mustofa mengatakan untuk membersihkan botol susu bayi sebaiknya cukup dibilas air mendidih beberapa saat.
Botol susu juga sebaiknya tidak dicuci dengan sikat yang keras yang dapan menggores bagian dalam botol sehingga melepaskan senyawa berbahaya.
"Waspadai jika botol susu sudah berubah menjadi buram, bisa jadi bagian dalamnya sudah tergores, lebih baik botol susu bayi diganti setiap beberapa bulan sekali," katanya.
http://www.beritasatu.com/perempuan/75462-botol-susu-yang-direbus-bahayakan-kesehatan-bayi.html
Monday, October 1, 2012
Pertumbuhan Si Kecil
"Ih, kok anak kamu kecil ya, padahal umurnya sama lho sama anakku (sambil senyum bangga minta ditimpuk)"
pasti deh ibu-ibu mulai galau kalau ada yang ngomong kaya gini, padahal makan udah banyak.
udah diusahakan homemade no instan, menu beragam, nutrisi ini itu , dan tambah vitamin.
coba yuk bu dari pada galau terus-terusan masukin BB dan TB anak ibu ke grafik pertumbuhan berikut.
biar ibu bisa mengukur sendiri apakah BB dan TB anak ibu masih dalam kurva normal atau tidak
![]() |
| Grafik Pertumbuhan Anak Laki-laki |
![]() |
| Grafik Pertumbuhan Anak Perempuan |
Cara membaca :
Tarik titik temu antara berat badan yang dimiliki oleh anak ibu pada garis kurva vertikal sesuai dengan usianya yg ada di garis kurva horizontal.
kemudian cari titik temunya. apabila BB masih dalam kurva p5 sampai dengan p75, berarti ibu layak tersenyum, jangan sedih... ( o ^ ___ ^ o ) karena BB anak ibu masih dalam kurva normal.
Nah gimana kalau ternyata di bawah p5, berarti ibu harus evaluasi lagi menu si kecil, apakah cukup karbohidrat, protein, zat besi dan lemak.
penambahan lemak bisa dengan tambahan mentega, unsalted butter untuk < 1 tahun. atau bisa dengan menambahkan EVOO ke makanan.
kalau masih belum bisa naik juga BBnya sebaiknya ibu berkonsultasi dengan dsa.
note : gambar grafik didapat dari Room for Children
Monday, September 24, 2012
WASPADA "SEPSIS"
Si Penyebab Kematian Bayi
Sepsis jangan dianggap remeh. Meski menyerang kurang dari 1% bayi baru lahir, ternyata sepsis menyebabkan 30% kematian pada bayi baru lahir ("Asuhan Keperawatan Infeksi pada Neonatus Sepsis" tahun 2008 STIKES 'Aisyiyah, Yogyakarta').
Sepsis merupakan infeksi berat yang disebabkan keberadaan bakteri yang menghasilkan toksin (racun) dalam darah. dapat berasal dari organ-organ dalam tubuh, seperti paru-paru, usus, saluran kemih atau kulit. Oleh karena itu sepsis juga bisa menimbulkan berbagai komplikasi serius terhadap ginjal, otak, paru-paru, pendengaran, bahkan kematian. Tidak heran bila sepsis didefinisikan debagai kelanjutan infeksi darah yang mengakibatkan syok dan kegagalan fungsi tubuh
Asal Mula Bayi Terkena Sepsis
Berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit atau jamur dapat menyebabkan infeksi berat yang dapat mengakibatkan terjadi sepsis. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. Oleh karena itu sepsis disebut juga dengan bakteremia (bakteri dalam darah) atau septikemia.
Salah satu bakteri yang menyebabkan sepsis adalah Streptococcus pneumoniae, dimana banyak menyerang bayi.
berkisar 15-30% ibu hamil membawa bakteri Streptococcus group B pada vagina atau rektum, yang kemudian ditransmisikan dari ibu ke bayi selama persalinan, sehingga bakteri ini dapat masuk ke tubuh bayi. Ditambah lagi mudahnya penularan bakteri ini melalui udara,yaitu melalui percikan ludah, baik pada saat berbicara, bersin maupun batuk, membuat bakteri ini umum terdapat pada tenggorokan bayi.
Selain itu, sepsis rawa menyerang bayi prematur yang mendapatkan perawatan insentif. Pasalnya, dalam perawatan invasif seperti infus, selang (pernafasan), kateter berpotensi menjadi jalan masuk bakteri yang normalnya hidup dipermukaan kulit, masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi.
Cari tahu Tanda-Tandanya
karena banyak menyerang bayi, Moms bisa mengenalnya melalui gejala, seperti :
- Bayi Malas Minum ASI
- Suhu tubuh diatas 38 dercel atau lebih rendah dari normal yang diukur melalui anus.
- Rewel
- Lemas dan tidak responsif.
- Adanya henti nafas bayi selama lebih dari 10 detik
- Kurang produksi urine
- Kuning pada kulit dan mata.
- Bernafas sangat cepet atau sulit bernafas.
- Terjadi perubahan frekuensi jantung yang awalnya cepat pada kasus awal, kemudian melamban pada Sepsis Lanjutan.
- Muntah
- Diare
- Perut Kembung
Cegah dengan Vaksin IPD
Mengingat sulit dan mahalnya pengobatan juga kecacatan permanen yang mengancam si kecil, maka hal terbaik yang bisa dilakukan para orang tua adalah mencegah penyakit berbahaya ini. Salah satunya dengan vaksin pneumococcus pada bayi dan balita.
Selain itu ikuti 5 langkah jitu ini:
- lakukan imunisasi (vaksinasi) pada bayi. Sepsis dapat dicegah dengan vaksinasi PCV (Pneumoccocal Conjugate Vaccine). Vaksin ini diberikan 4 kali yaitu pada usia 2 , 4, 6 bulan dan booster pada usia 12-15 bulan. Jika terlambat melalukan vaksinasi jangan kuatir, jadwalkan ke dokter anak anda untuk mengejar ketinggalan.Pada umur 7 –12 bulan, diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; pada umur > 1 tahun diberikan 1 kali, namun keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada umur 15 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup 1 kali.
- Ibu Hamil memeriksakan kehamilannnya pada usia 35-37 minggu.Pastikan bahwa bakteri tersebut tidak terdapat pada jalan lahir.
- Cuci tangan sebelum memegang bayi.
- Orang yang dekat dengan bayi upayakan tidak terjangkit penyakit sepsis, den telah mendapatkan vaksinasi sebelumnya.
- Bagi anak yang menggunakan peralatan medis yang menetap dalam tubuh, kateter atau infus, pastikan untuk memperhatikan petunjuk dokter dalam membersikan dan merawat tempat alat medis tersebut.








